Legenda Para Raja di Raja Ampat

07/08/2020

469

Pada suatu masa, tinggalah sepasang suami-istri yang bernama Alyab Gaman dan BukudeniKapatlot di suatu tempat yang disebut Waigi sambil berkebun. Disekitar lahan yang merekabersihkan ini, mereka menemukan tumpukan telur yang kurang lebih jumlahnya tujuh butir. Oleh karena lokasi kebun mereka berdua tinggal jauh dari pantai dan tidak ada lauk, sehinggasuami dari Bukudeni Kapatlot, Alyab Gaman menawarkan istrinya agar beberapa telur tersebutdimakan. Namun, Bukudeni Kapatlot menolak tawaran suaminya itu dan mengusulkan agartujuh telur tersebut dipelihara.

Bukudeni Kapatlop merasa telur ini bukan telur sembarangan, karena setelah sekian lamatinggal disana, dirinya belum menemukan unggas atau hewan lainnya yang mampu bertelurdan hidup disekitar tempat tinggal dan kebunnya itu.

Suaminya pun setuju atas usul tersebut.Seiring berjalannya waktu, satu demi satu telur itu menetas dan yang keluar dari cangkangtersebut adalah manusia. Dari tujuh buah telur tersebut, sementara yang menetas hanya enambuah, dan satu diantaranya belum menetas hingga saat ini. Telur Raja ini kemudian disakralkan oleh seluruh masyarakat Raja Ampat dan terdapat ritual khusus setiap 5 tahun sekali yangmengundang tokoh adat diseluruh Raja Ampat untuk telur Raja ini.

Dari enam telur yang menetas, satu diantaranya adalah perempuan dan sisanya adalah laki-laki. Ketika itu, enam Raja ini memutuskan untuk berpindah dan membangun satuperkampungan di suatu tempat yang diberi nama Tip Nukari yang dalam bahasa Maya adalahgabungan dua kata dari kata ‘Tip’ yang berarti Teluk, dan ‘Nukari’ yang berarti pohon kelapa.Teluk dengan rimbunan pohon kelapa tersebut dapat ditemui hingga sekarang karena terletakmasih didalam wilayah Kali Raja di kampung wisata Wawiyai.

Kehidupan Raja-raja di perkampungan Tip Nukari ini utamanya adalah memelihara penyudengan masing-masing hanya diperbolehkan satu atau dua ekor saja untuk dipelihara. Haridemi hari, kesibukan mereka hanya merawat dan memberi makan penyu-penyu tersebut disatu lokasi yang sama. Enam Raja-raja ini hidup berdampingan dan saling mengasihi, hinggapada suatu hari, satu-satunya saudara perempuan mereka yang bernama Pintaki hamil dantidak diketahui siapa atau apa penyebabnya.

Apalagi hanya ada mereka berenam diperkampungan itu, sehingga mereka merasa malu atas kejadian yang menimpa Pintaki,ditambah lagi, mereka ini adalah saudara kandung, sehingga mereka mengambil keputusan untuk menghanyutkan Pintaki ke laut untuk menghilangkan rasa malu itu denganmenggunakan piring berukuran besar. Dalam usaha menghanyutkan Pintaki ini, beberapa kali gagal dan Pintaki terdorong kembali ke kampung tersebut. Dan pada usaha yang ketiga, Pintaki berhasil hanyut dan piring besar yang digunakannya itu terdampar di Biak yang saat itu disebut Nu Apasiw yang artinya dalam bahasa Maya adalah ‘Kampung Yang Kesembilan’.

Sementara itu di Tip Nukari, Raja-raja yang tetap tinggal dan menjaga penyu peliharaanmereka, mulai terjadi kesalahpahaman di antara mereka. Hal ini disebabkan oleh salah satupenyu peliharaan mereka mengalami luka-luka yang kemudian berujung pada saling menuduhdiantara mereka dan akhirnya berpisah.


Berikut ini nama-nama Raja-raja diurutkan berdasarkan silsilah keturunan, yaitu pertamaadalah Raja Kalan Agi War atau selanjutnya disebut Raja Waigeo dan bertempat tinggal diMumes dengan wilayah kekuasaan mulai dari kampung Mumes, seluruh Teluk Mayalibitkemudian mencapai ke kampung Salio dan sekitarnya. Raja Kedua adalah Raja Betani, dirinyakeluar dari Tip Nukari dan bertempat di pulau Salawati dan wilayah kekuasaannya mulai dari Salawati keseluruhan, pulau Batanta seluruhnya dan sebagian selatan pulau Waigeo yaknikampung Wawiyai dan Selpele. Raja Ketiga adalah Raja Johar, yang memilih keluar danbertempat tinggal di pulau Misool dan wilayah kekuasaannya adalah seluruh Misool.


Raja keempat adalah Raja Fun Sem, namun dirinya tidak menetap pada suatu tempat tertentu, ia memilih berpindah-pindah tempat. Raja kelima, Raja Kelimutu bertempat tinggal di pulau Seram. Kemudian Raja Keenam adalah Raja perempuan, Pintaki yang telah dihanyutkan dan terdampardi pulau Biak dan menetap disana. Kemudian Raja yang ketujuh dan belum menetas adalah Raja Kapatna. Masyarakat kampung Wawiyai menjaga dan merawatnya hingga sekarang.


Raja Perempuan yang dihanyutkan Setelah tiba di Biak, barulah Pintaki melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Kurabesi. Beranjak dewasa, Kurabesi merasa dirinya berbeda dengan penduduk di pulau Biak, sehingga ia pun bertanya kepada ibunya tentang dimana keluarganya yang lain berada. Menjawab pertanyaan putranya, Pintaki hanya berkata bahwa keluarga mereka yang adalahpaman-pamannya berada di pulau Waigeo. Tanpa banyak pikir, Kurabesi kemudian pamitkepada ibunya dan segera berangkat menuju pulau Waigeo untuk bertemu secara langsungdengan keluarga dari ibunya ini. Ketika itu, Kurabesi hanya meminta petunjuk dari ibunya mengenai lokasi tepatnya pulauWaigeo.


Pintaki lalu menjelaskan bahwa pulau Waigeo berada dibagian Selatan, tepatnya diTeluk Kabui. Lebih lanjut, Pintaki menyuruh agar Kurabesi mengarahkan lurus haluan kapalsetelah memasuki Teluk Kabui itu hingga menemukan muara sungai tempat paman-pamannyatinggal dan menetap. Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada ibunya, Kurabesi berlayarmenuju pulau Waigeo. Setelah mengikuti seluruh petunjuk ibunya itu, dirinya berhasil tiba dipulau Waigeo dan bertemu pamanpamannya serta sanak keluarga lainnya disana.


Seiring berjalannya waktu, Kurabesi pun tidak berlama-lama bersama para pamannya itu. Kurabesi pun melanjutkan perjalanannya menuju Ternate. Setelah tiba disana, ternyata sedangterjadi perang antara Sultan Banao dan Sultan tidore. Saat itu Kurabesi persis berada dipantaikampung wilayah Sultan Banao, tempat dimana diperkirakan akan terjadi perang, atau sekitarjam 8 pagi hari itu, dan dengan cepat Sultan Banao menyuruh kepada pengawalnya untuk menjelaskan kepada Kurabesi. Namun Kurabesi menolak dan bersikukuh untuk tetap tinggal dan menanti terjadinya perang, bahkan ia menunggu dengan tidak sabar.


Mendengar perkataanKurabesi yang disampaikan kembali oleh pengawalnya yang

telah kembali, Sultan Banao punterkesan dengan keberanian Kurabesi dan mengajak serta meminta Kurabesi untukmembantunya dalam perang nanti.

Seakan sesuai dengan waktu yang telah disepakati bersama, perang pun terjadi. Kurabesi tidak sempat turun dalam medan perang karena ia ingin menunjukan jiwa kesatria-nya dan ilmukebal yang dimiliki dengan duduk didepan moncong meriam yang langsung ditembakan menuju para musuh Sultan Banao. Sehingga kedua keduanya memenangkan perang tersebut.


Sebagai ungkapan terima kasih, Sultan Banao menawarkan harta benda yang berlimpah kepada Kurabesi, namun untuk kedua kalinya Kurabesi menolak tawaran tersebut. Ia kemudian memilih untuk menikahi cucu perempuan Sultan Banao yang bernama Bukudeni.

Arsul

Waisai


Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ini adalah website resmi Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat.

Konten yang tercantum di situs web ini dimaksudkan untuk tujuan informasi daripada komersial.

id_IDBahasa Indonesia